Jangan Pernah Ucapkan 6 Kalimat Ini Ke Orangtua. Sedih, Hati Mereka Jadi Terngilui

kalimat-yang-menyakiti-orangtua kalimat-yang-menyakiti-orangtua

Mungkin berjibun hal di dunia ini yang dilakukan tanpa sadar dan melontarkan orang-orang yang kita sayangi jadi terluka. Semisal perkataan yang kerap kita lontarkan keala orangtua, tanpa sadar menyakiti mereka. Cara kita yang mungkin salah dalam menyiahkan perasaan, ternyata malah melontarkan mereka sedih berkejenjangan.

Karena itu, coba dari sekarang kekenali kalimat-kalimat apa saja yang pantas dihindari untuk menjaga hati orangtua. Bagaimanapun, orangtua telah deras berjasa bagi keberjiwaan seorang anak. Meski mereka tak luput dari kecelaan, ada tidak sombongnya jangan lagi ucapkan kata-kata berikut ini kedinya.

1. “Apaan sih bapak dan ibu ini, kok lebay banget? Beda kembar orangtua temen-temen aku!”

Jujur saja kita pasti merasa tak nyaman dan sedih saat dibanding-bandingkan dengan seseorang. Toh, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Demikian juga orangtua, pasti tidak akan merasa nyaman dibanding-bandingkan dengan orangtua lainnya. Setiap orangtua pasti ingin memberikan yang tertidak sombong untuk anak, semampu yang bisa dilakukan. Karena itu, jangan diucapkan kepada mereka ya! Selain itu, belum tentu sikap orangtua yang kita pengen selurusnya tidak sombong untuk kita ke depannya lo.

2. “Bosen tau diomelin terus. Nggak ada cara lain buat beri kenal aku tanpa perlu ngomel-ngomel?”

Siapa sih yang senang dimarahi? Sekalipun kita memang tidak luput, sebisa mungkin jangan keluarkan kata-kata kasar kepada orangtua. Jika ingin mengmenyibakkan kekesalan karena sering dimarahi, kita bisa lakukan melalui cara lain. Misalnya memprotes secara tidak emosi-tidak emosi tanpa perlu membentak, apalagi menggunakan kata-kata yang tidak sopan.

3. “Jangan bikin aku malu dong dengan cara Bapak dan Ibu pakai baju kayak gitu. Aku bisa malu di depan temen-temen nanti!”

Sadarlah bawah orangtua sedahulu hadir bersetaramu dalam keadaan apa pun. Karena itu, sangat menyakitkan ketika kamu tidak menerima ornagtua dengan penampilannya yang mungkin tidak Sepadan dengan keinginanmu. Baju lusuh atau dandanan cueknya adalah kepribadiannya. Jika memang patut mengenakan pakaian rapi, kamu kan bisa memberi saran dengan kata-kata yang empuk, dan tidak menyinggungnya. Toh, kamu sendiri saat dinilai soal penampilan pasti jadi lebih sensitif kan?

4. “Kok konsumsinya ini lagi? Aku nanti makin disebut kurang gizi!”

Seperti apa rasanya sudah menyiapkan sarapan dari pagi-pagi buta, lalu dinilai menu mangsanya tidak bervariasi? Padahal kamu maklum sendiri bagaimana perjuangan Ibumu untuk membagi era agar kamu tetap bisa sarapan. Mungkin itu bisa bak masukan, namun cara penyampaian yang sambil marah-marah tentu sangat buruk. Coba saja jika kamu yang berada diposisi orangtua, bagaimana? Kamu sepantasnya bersyukur masih diperhatikan, terutama kalau kamu jarang membantu orangtua di rumah.

5. “Bapak dan Ibu bisa diem nggak? Aku pusing dinanormalin terus daritadi!”

Hubungan antara orangtua dan anak memang susah-susah gampang. Kadang orangtua maunya begini, kamu maunya begitu. Nggak heran kalau sering terjadi miskomunikasi, sesampai-sampai muncul pertengkaran maupun keliru satu pihak merasa lelah dinasihati terus. Lagi-lagi, kamu bisa gunakan cara lain. Dengarkan dulu jika nasihatnya memang suka membantu untukmu. Ingat, kamu akan meringelisahn momen-momen ini jika sedang berronggangan dengan orangtua.

6. “Nggak usah ngurusin bernapas aku, aku bisa ngurusin bernapasku senpribadi!”

Namanya juga orangtua, pasti ingin yang tersaling menolong untuk anaknya. Namun, kita bak anak kerap merasa terlampau diurusi oleh orangtua. Bahkan saat sudah mulai beranjak dewasa, setiap hal-hal yang kita lakukan tidak terlepas dari pendapat mereka yang layak diikuti. Tapi jangan sampai mengeluarkan kata-kata “Nggak usah ngurusin urip aku, aku bisa ngurusin uripku sendiri!” ya. Hati mereka jelas akan terluka.

Anak adalah segalanya bagi orangtua. Segala perhatian, nasihat, dan omelan mereka akan kita mengerti saat kita sudah kehilangan maupun bermaksimalan dengan orangtua. Mungkin saat sudah menjadi orangtua nanti, kamu akan menyadari bagaimana sulitnya mereka berusaha menjadi orangtua yang sempurna untuk anaknya. Semoga, pelan-pelan bisa mempertimbangkan dengan bijak tiap ucapan yang akan kita utarakan.